Pak Oyib, Menghabiskan Sisa Usianya di Tanah yang di Sengketakan

Pak Oyib
Wajahnya teduh bijak, tutur kata dan bahasa Indonesianya lembut dengan logat Sunda yang kental, tubuhnya mulai bungkuk dibaluti oleh kulit tubuhnya yang keriput. Usianya kini sudah 84 tahun, malam ini dia duduk bersila bersandar pada dinding semen rumah Ibu Kades, berpeci hitam, celana kain hitam dan berbaju koko putih, kumis dan rambutnya memutih. Dia menunggu peserta pertemuan antar kampung yang akan dilaksanakan di Rumah Kepala Desa Bandung Jaya Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang. Seperti biasanya, dia adalah peserta yang tertua dan selalu pertama kali datang “Saya lahir di tahun 1933” Katanya ketika saya duduk disampingnya sambil menunggu perserta lain. Namanya Pak Oyib. Saya pertama kali kenal enam bulan yang lalu, diperkenalkan oleh Kepala Desa Bandung Jaya.

Continue reading “Pak Oyib, Menghabiskan Sisa Usianya di Tanah yang di Sengketakan”

Sengkuang, Terjebak pada Narasi Tanah Pemberian yang di Rampas

Akar
Kabawetan, 2017

Sengkuang adalah hamparan wilayah yang memanjang antara Timur dan Selatan lereng Gunung berapi Bukit Kaba, ketinggian sebagian wilayahnya mencapai 1.000 mdpl, kondisi ini membuat wilayah Sengkuang memiliki tanah vulkanik yang subur. Nama Sengkuang berasal dari suku kata Seng dan Kuang. Seng adalah penyebutan untuk penutup atap rumah dan Kuang adalah sejenis daun pandan hutan sejenis Pandanus Tectorius yang daunnya lebih lebar, kasar dan tebal biasanya digunakan sebagai topi caping petani dan tumbuh disepanjang anak sungai air Sempiang yang mengalir dari kawasan hutan di wilayah Bukit Kaba, anak sungai ini merupakan bagian dari DAS Hulu Musi. Continue reading “Sengkuang, Terjebak pada Narasi Tanah Pemberian yang di Rampas”

Supriyanti, Perempuan Tangguh dari Sengkuang; Pejuang ‘Tanah Ibu’

Ibu Kades
Supriyanti, Kepala Desa Bandung Jaya Kab. Kepahiang

Oleh Pramasty Ayu kusdinar[1]

Supriyanti (37 tahun) merupakan salah satu Perempuan yang di tokoh kan di desa Bandung Jaya[2]. Perempuan kelahiran Pagar Alam 13 Maret 1979 ini merupakan generasi ketiga dari keluarganya yang merupakan peserta transmigran di objek transmigrasi Tanah Bengko yang sekarang meluas menjadi daerah Sengkuang.[3] Seluruh keluarga Supriyanti adalah masyarakat yang mengikuti program transmigrasi umum yang dicanangkan pemerintah sejak rezim orde lama yakni tahun 1954 oleh Presiden Soekarno. Oleh karena itu, keluarga Supriyanti telah memiliki statuta sebagai penduduk asli atau Mulo Jejai (dalam Bahasa Rejang, Muloi Jejai berarti pendiri desa/kampong) yang dibuktikan dengan pengelolaan terhadap lahan untuk bermukim serta sebagai sumber-sumber penghidupan; yakni dengan bekerja sebagai petani kopi dan petani sayur-mayur.  Continue reading “Supriyanti, Perempuan Tangguh dari Sengkuang; Pejuang ‘Tanah Ibu’”

Kronologis Konflik Tanah; Masyarakat Transmigrasi Sengkuang, Kabawetan dengan Taman Wisata Alam Bukit Kaba Kepahiang

IMG_5386Oleh Pramasty Ayu Kusdinar[1]

Kasus perampasan tanah yang belum lama ini terjadi pada masyarakat Trans Sengkuang di 8 desa[2] Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang Bengkulu menjadi polemik yang sangat memprihatinkan.  Konflik tersebut disinyalir terjadi akibat tumpang tindih lahan kelola masyarakat dengan negara atau para pemangku kawasan. Hal ini kemudian berdampak pada tindakan represif yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dan Pemangku Kawawan terhadap masyarakat. Masyarakat trans Sengkuang tersebut, dituduh sebagai perambah karena berkebun di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba di Kabupaten Kepahiang. Continue reading “Kronologis Konflik Tanah; Masyarakat Transmigrasi Sengkuang, Kabawetan dengan Taman Wisata Alam Bukit Kaba Kepahiang”

Jelajah Rasa Kopi “Akar” menuju Kelestarian Ekologis dan Kelestarian Budaya

0116 PROREP067 N37A1680
Petani Kopi Hutan Kemasyarakatan. Akar-ProRep, 2016

Bubuk kopi Akar yang merupakan akronim dari Aroma Kopi Alami Rejang, bubuk kopi ini berjenis Robusta berasal dari kawasan hutan Lindung Bukit Daun Register 5, Kawasan hutan Lindung yang di kelola oleh 721 Kepala Keluarga yang tersebar di Desa Air Lanang, Tanjung Dalam, Tebat Pulau, Tebat Tenong Dalam dan Desa Baru Manis Kabupaten Rejang Lebong. Pengelolaan hutan oleh masyarakat dilakukan melalui Skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), salah satu skema Perhutanan Sosial menuju pengelolaan hutan berkelanjutan dan berkontribusi pada peningakatan kesejahteraan dan kelestarian ekologi. Continue reading “Jelajah Rasa Kopi “Akar” menuju Kelestarian Ekologis dan Kelestarian Budaya”

Pengesahan Peraturan Daerah Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Rejang di Kabupaten Lebong; Jalan Awal Menuju Pengembalian Hak Masyarakat Hukum Adat Rejang

Pandangan Akhir DPRD Lebong
Sidang Paripurna Pandangan Akhir Fraksi DPRD Kab. Lebong, Akar 2017

Disusun oleh Erwin Basrin[1]

Pengakuan MHA Rejang dan Tinjauan Yuridis Pengakuan[2]

Keberadaan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Rejang merupakan salah satu fakta keberagaman bentuk masyarakat yang pembentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mengakui, menghormati dan melindungi keberagaman secara ekplisit terdapat di dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika, semboyan ini menjadi pijakan dalam menyusun UUD 1945. Dalam Rapat Besar BPUPKI tanggal 15 Juli 1945, Supomo mengemukakan “Tentang daerah, kita telah menyetujui bentuk persatuan, unie: oleh karena itu di bawah pemerintah pusat, di bawah negara tidak ada negara lagi. Tidak ada onderstaat, akan tetapi hanya daerah-daerah, ditetapkan dalam undang-undang.” Continue reading “Pengesahan Peraturan Daerah Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat (MHA) Rejang di Kabupaten Lebong; Jalan Awal Menuju Pengembalian Hak Masyarakat Hukum Adat Rejang”

Policy Brief; Konflik Lahan Perkebunan Masyarakat di dalam Kasawan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba Kabupaten Kepahiang

IMG_5938
Pertemuan di Desa Bandung Jaya Kepahiang, Menemukan Resolusi tata Kelola Hutan

Resolusi Konflik Lahan Perkebunan Masyarakat 8 (delapan) Desa Kecamatan Kabawetan Kabupaten Kepahiang yang Masuk di dalam Kasawan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba[1]

Oleh Akar Foundation[2]

Latar Belakang

Indonesia mempunyai keanekaragaman hayati yang tinggi, mulai dari tipe ekosistem, jenis flora dan fauna, serta sumberdaya genetik. Kekayaan keanekaragaman hayati ini perlu dijaga pengelolaannya dan dipastikan pemanfaatan dilakukan dengan lestari. Langkah-langkah konservasi menjadi perlu dilakukan agar keanekara-gaman hayati yang ada selalu terpelihara dan mampu mewujudkan keseimbangan dalam kegiatan pembangu­nan. Continue reading “Policy Brief; Konflik Lahan Perkebunan Masyarakat di dalam Kasawan Taman Wisata Alam (TWA) Bukit Kaba Kabupaten Kepahiang”

Pengantar Politik Agraria: Memahami Peta Jalan Menuju Keadilan Agraria

IMG_5386
Reposisi Ruang Kelola Rakyat dalam Kawasan Hutan di Kab. Rejang Lebong, Akar Foundation 2016

Pengantar Politik Agraria: Memahami Peta Jalan Menuju Keadilan Agraria[1]

Oleh Erwin Basrin[2]

…..bahwa revolusi tanpa land reform adalah sama saja dengan gedung tanpa alas, sama saja dengan pohon tanpa batang, sama saja dengan omong besar tanpa isi”; “Tanah tidak boleh menjadi alat penghisapan! Tanah untuk Tani! Tanah untuk mereka yang betul-betul menggarap tanah!” (Soekarno, “Djalannja Revolusi Kita”, Pidato Kenegaraan 17 Agustus 1960) Continue reading “Pengantar Politik Agraria: Memahami Peta Jalan Menuju Keadilan Agraria”

Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang di Kabupaten Lebong di Sahkan

IMG_6109
Penandatangan Pengesahan PERDA antara Ketua DPRD dan Pemkab Lebong, Akar Foundation 2016

Akarnews. Rejang sebagai kesatuan masyarakat hukum adat merupakan fakta yang tak terbantahkan, keberadaannya telah terdokumentasi dengan baik dalam sejumlah literatur sejarah dan hukum adat. John Marsden (Residen Inggris di Lais, tahun 1775-1779), dalam laporannya meceritakan tentang adanya empat petulai Rejang yaitu Joorcalang (Jurukalang), Beremanni (Bermani), Selopo (Selupu) dan Toobye (Tubai).[1] Dan dalam laporannya mengenai ‘adat-federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang Dr. JW. Van Royen menyebutkan bahwa kesatuan Rejang yang paling murni dimana marga-marga dapat dikatakan didiami hanya oleh orang-orang di satu Bang, harus diakui Rejang yang ada berada di wilayah Lebong.[2] Continue reading “Perda Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Rejang di Kabupaten Lebong di Sahkan”

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑