Kepahlawanan dan Kepemimpinan

Herry Suhardiyanto
Wakil Rektor II IPB

Bangsa yang besar adalah bangsa yang dapat menghargai jasa para pahlawannya. Kata-kata penuh makna ini pernah dilontarkan Bung Karno untuk mengajak bangsa kita menghormati jasa para pahlawan dalam memperjuangkan kemerdekaan. Kini, kita masih dihadapkan pada berbagai persoalan kedaulatan, kemandirian, serta kepribadian bangsa dan negara.

Laut kita dijarah bangsa asing, hutan kita dibabat para pemburu keuntungan, hutang kita menumpuk belum terselesaikan, para pejabat kita masih banyak yang korup, rakyat kita sangat banyak yang miskin, angkatan kerja kita sangat banyak yang menganggur, generasi muda kita setiap saat terancam bahaya narkoba.

Dalam kondisi seperti ini, kita merasa sangat prihatin. Pada tempatnyalah kalau kita mencoba memahami mengapa semua itu terjadi padahal para pahlawan bangsa telah mengorbankan segalanya demi kemuliaan bangsa dan negara ini. Setidaknya terdapat tiga faktor penyebab mengapa semua itu terjadi dan perjuangan kita selama ini belum membuahkan hasil secara signifikan.

Pertama, lunturnya jiwa kepahlawanan karena menipisnya jiwa pengorbanan serta menipisnya kecintaan terhadap bangsa dan negara. Indikasinya adalah memudarnya sikap mental yang mengedepankan kepentingan bangsa, rakyat, dan negara dibanding kepentingan kelompoknya. Kedua, berkurangnya semangat kepeloporan untuk membuka jalan menuju perubahan yang lebih baik. Ketiga, langkanya pemimpin transformasional yang berkarakter melayani dan terpercaya serta dapat menjadi teladan.

Kepahlawanan
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah berbicara panjang lebar tentang sosok pahlawan dalam sebuah esai yang ditulis di majalah mingguan Time edisi 10 Oktober 2005 berjudul The Making of A Hero. Menurut dia, setiap masyarakat membutuhkan pahlawan, dan masyarakat itu sendiri sesungguhnya mempunyai pahlawan. Perluasan makna kepahlawanan berarti membuka ruang munculnya pahlawan di segala bidang kehidupan. Setiap orang memiliki peluang untuk menjadi pahlawan karena prestasi dan kerja keras yang dilakukannya bahkan sampai mengorbankan kepentingannya sendiri. Ada pahlawan olah raga, pahlawan pendidikan, pahlawan lingkungan, pahlawan kemiskinan dan pahlawan pembangunan.

Jika kita menilik sejarah perjuangan, para pahlawan bangsa umumnya memiliki semangat kepeloporan yang tinggi. Selanjutnya, kepeloporan dapat menyatu dalam karakter yang sama dengan kepemimpinan yakni berada di muka dan diteladani oleh orang lain. Tetapi, kepeloporan dapat pula memiliki arti sendiri. Kepeloporan jelas menunjukkan sikap maju ke depan, merintis, membuka jalan, dan memulai sesuatu, untuk diikuti, dipikirkan, dilanjutkan dan dikembangkan oleh orang lain. Dalam kepeloporan terdapat unsur menghadapi risiko. Kesanggupan untuk memikul risiko ini penting dalam setiap perjuangan.

Pada zaman modern ini, kehidupan makin kompleks dan penuh risiko. Seperti pernah dikatakan oleh Giddens, modernity is a risk culture. Modernitas memang mengurangi risiko pada bidang-bidang dan cara hidup tertentu, tetapi juga memperkenalkan bentuk risiko baru yang tidak dikenal pada era-era sebelumnya. Untuk itu maka diperlukan ketangguhan, baik mental maupun fisik. Tidak semua orang berani, dapat atau mampu mengambil jalan yang penuh risiko.

Kepeloporan juga bermakna keberanian menyatakan yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. Seperti Diponegoro, Imam Bonjol, Pattimura, Teuku Umar, dan sederet pahlawan bangsa lainnya yang berani menyatakan bahwa imperialisme dan kolonialisme adalah bentuk ketidakadilan dan karenanya harus dilawan. Kita juga perlu membangun keberanian membela kebenaran. Semangat inilah yang seharusnya dimiliki oleh kaum muda bangsa ini untuk memberikan pencerahan kepada rakyat serta mempersiapkan diri menerima estafet kepemimpinan bangsa.

Kepemimpinan transformasional
Selain kepahlawanan dan kepeloporan, dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di era reformasi ini, semakin terasa sekali dibutuhkan hadirnya pemimpin-pemimpin yang mumpuni di bidang masing-masing. Dengan adanya sistem multipartai maka terbuka peluang bagi hadirnya pemimpin-pemimpin bangsa melalui partainya masing-masing.

Partai politik diharapkan mengoptimalkan fungsi-fungsinya, antara lain sebagai sarana pengkaderan, penyelesaian konflik kepentingan, pengambilan keputusan, serta sosialisasi dan komunikasi dengan rakyat. Kader-kader partai perlu ditempa menjadi pemimpin-pemimpin yang tangguh dan berwibawa, tidak saja di mata konstituennya, tetapi juga segenap lapisan masyarakat, dan pada akhirnya menjadi milik bangsa.

Ke depan, bangsa ini membutuhkan model kepemimpinan yang transformasional untuk selalu menjaga agar perubahan yang berlangsung melibatkan segenap komponen bangsa menuju pada keadaan yang lebih baik. Studi-studi tentang kepemimpinan transformasional dalam berbagai latar belakang budaya mengungkapkan bahwa semua pemimpin transformasional memiliki kesamaan perilaku yaitu visioning, inspiring, stimulating, coaching, dan team building.

Pemimpin transformasional mampu membuat bangsanya melihat bahwa tujuan yang hendak dicapai bersama dalam kehidupan bernegara adalah jauh lebih berharga dari sekadar kepentingan kelompok. Dalam perspektif organisasi, maka pemimpin transformasional mampu menginternalisasikan nilai-nilai pendorong pada segenap warganya untuk bergerak maju mencapai tujuan organisasi dan menempatkan tujuan organisasi jauh lebih utama daripada kepentingan pribadi masing-masing.

Pemimpin transformasional juga harus berkarakter melayani. Pemimpin yang melayani (servant leader) menekankan konsistensi sikap etis terhadap orang yang dipimpinnya, organisasi atau komunitasnya, serta lingkungan masyarakat yang lebih luas. Pemimpin yang melayani adalah seseorang yang membimbing, menggerakkan dan mentransformasi secara khas organisasi yang dipimpinnya dalam mencapai tujuan. Teori ini dikemukakan oleh RK Greenleaf tahun 1977 dalam bukunya Servant Leadership: A Journey into the Nature of Legitimate Power and Greatness.

Sementara itu, menurut Jim Laub (1999), servant leader mempunyai karakteristik antara lain: (1) menghargai orang lain dengan mendengarkan dan mempercayainya, (2) memberdayakan orang lain dengan keteladanan, (3) membangun komunitas yang menghargai perbedaan, (4) membangun autentisitas melalui integritas dan kepercayaaan, (5) memberikan perspektif masa depan dan mengambil inisiatif, dan (6) berbagi kepemimpinan untuk membentuk visi bersama.

Keenam karakteristik tersebut sungguh sesuai dengan falsafah bangsa kita yang tercermin pada kata pamong sebagai ungkapan pemimpin atau pengurus kepentingan umum. Keberhasilan perjuangan rakyat kita dengan para pamongnya di desa-desa di seluruh penjuru Tanah Air walaupun dalam situasi yang serba sulit pada tahun-tahun pertama kemerdekaan menjadi pelajaran bahwa ternyata servant leadership juga mempunyai akar pada budaya bangsa kita.

Ikhtisar

– Pengorbanan para pahlawan untuk merebut kemerdekaan negeri ini tak diikuti oleh generasi penerusnya untuk menjaga kemerdekaan itu dengan baik.
– Setelah puluhan tahun ditinggalkan penjajah, rasa kecintaan terhadap bangsa dan negara terus terkalahkan oleh semangat untuk menggapai tujuan pribadi maupun kelompok.
– Dalam kondisi seperti ini diperlukan kepemimpinan transformasional yang benar-benar punya semangat untuk melayani rakyat.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: