Beranda > Akar News > Warga Vs Aparat Nyaris “Perang”

Warga Vs Aparat Nyaris “Perang”

Harian Rakyat Bengkulu/Rabu, 10 Juni 2009

670Ratusan warga bersenjatakan golok, parang, linggis, clurit, dan kayu menghadang laju kendaraan aparat keamanan ketika ingin pulang dengan menuruni bukit.

Wartawan koran ini yang meliput langsung di lokasi menyaksikan langsung ketegangan dan suasana mencekam di lokasi. Dalam posisi berhadap-hadapan, seluruh anggota tim gabungan sudah memegang senjata dalam posisi siap apabila terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dalam situasi yang genting itu, salah seorang anggota Polres Kepahiang Bripka S. Bahri mencoba menengahi. Kepala BKSDA Andi Basrul langsung menjelaskan tujuan operasi. “Jangan sampai hanya kepentingan ekonomi sesaat, anak dan cucu kita mendapatkan efeknya salah satunya musibah kayak di Aceh,” terang Andi.

Namun warga tidak menerima penjelasan Andi. Mereka meminta diberi waktu 3 bulan menunggu tanaman mereka yang akan panen. Namun permintaan warga tersebut ditolak. BKSDA hanya memberikan waktu sepuluh hari untuk membereskan tanamannya. “Huuuuu…..!!!!” teriak warga. “Yen gelem nanggungi mangan ra poo,” sela warga lainnya dengan bahasa Jawa.

Melihat kondisi yang mulai memanas, petugas BKSDA sampai harus mengeluarkan peta untuk dijelaskan kepada perambah. Setelah dilakukan pembicaraan secara intensif, disepakati perambah yang merupakan warga pendatang tersebut, meminta petugas supaya memasang tapal batas antara lahan warga dan lahan negara agar tidak terjadi kesalahan lagi. Permintaan tersebut akhirnya disetujui petugas.

“Baik dalam waktu dekat kami akan memasang tapal batas, dan ingat seluruh ladang yang ada dalam hutan lindung akan kami berantas,” tegas Andi Basrul.

Sekitar pukul 14.15 WIB akhirnya rombongan petugas gabungan melanjutkan perjalanan diselingi umpatan perambah yang ikut turun dengan berbagai macam bahasa daerah yang membuktikan bahwa perambah bukanlah warga asli.

Bagaimana kronologis operasi? Awalnya tim gabungan yang berisi 56 personel tiba di Desa Kepahiang Indah, tempat hutan konservasi yang dirambah. Rombongan sebelumnya sempat singgah di BKSDA Curup. Tim gabungan yang berasal dari Polda Bengkulu, Polres RL, dan Polres Kepahiang ini datang dengan senjata lengkap. Mereka menggunakan 7 unit mobil. Tapi karena jalan yang terjal, hanya 5 mobil yang bisa meneruskan perjalanan.

Sekitar pukul 10.00 WIB, tim gabungan tiba di lokasi. Dengan senjata laras panjang aparat menyusuri kawasan hutan yang telah beralih fungsi menjadi perkebunan cabai, kopi, tomat dan tanaman lainnya.

Di perkebunan cabai yang luas, petugas berhasil mengamankan 1 warga bernama Suryanto (25) warga Desa Air Rusa Kecamatan Sindang Dataran beserta sepeda motor Suzuki Tornado BG 6612 HE. Sebelum diamankan petugas, Suryanto sempat mengelabui petugas dengan cara membaringkan sepeda motornya ke tanah, namun akhirnya persembunyiannya diketahui petugas.

Menurut pengakuan Suryanto dirinya tak mengetahui kalau lahan yang ia garap masuk kedalam kawasan hutan konservasi, “Aku nggak tahu pak,, aku cuma minjam, kebun ini punya kakakku,” ujar Yanto berkelit.

Usai mengamankan Yanto, petugas terus merangsek menyusuri jalan setapak yang menanjak. Hasilnya berhasil diamankan 3 orang perambah yang sedang menggarap kebun cabai yakni Revo Renaldi (25) warga Lahat, Maryono (38) warga Jawa Timur, Sukadi (18) warga Jawa Timur yang semuanya tinggal di Sindang Dataran.

Alasan ketiga perambah ini juga sama yakni telah membeli dari warga lainnya. Saat ditanya siapa penjualnya, ketiga warga tersebut mengaku tak mengenalnya. Sehingga petugas terpaksa mengamankan ketiganya beserta dua unit motor yakni Supra Fit BD 4251 KD dan motor kosong. Tak ketinggalan peralatan kebun seperti semprotan, parang, camgkul ikut diamankan.

Menurut keempat perambah tersebut, cabai yang mereka tanam belum baru empat bulan, namun sudah keburu di tangkap petugas.

Selanjutnya, RB bersama petugas kembali menyusuri jalan setapak menuju ke perbukitan yang lebih tinggi. Selama dalam penyusuran yang dilakukan sekitar 2 jam lamanya, tim operasi menemukan 12 pondok yang tidak berpenghuni. Petugas kemudian membakar hangus pondok-pondok tersebut.

Penyusuran akhirnya berhenti setelah petugas menemui jalan buntu dan diperkirakan tidak ada lagi jalur menuju ke kawasan hutan konservasi. Namun saat akan kembali turun, petugas menemukan beberapa orang perambah yang berusaha kabur. Doorrrr!!!! Pistol polisi menyalak di tengah hutan yang sepi. Polisi terpaksa memberikan tembakan peringatan ke udara untuk mencegah agar warga tidak melarikan diri. Hasilnya efektif, warga kemudian menyerah dan langsung diamankan.

Setelah semua lahan dipastikan bersih dari para perambah dan pondok-pondok liar, petugas langsung kembali turun. Belum puas dengan hasil yang didapat, petugas kembali menemukan 7 pondok yang berdiri sejajar. Sama seperti gubuk sebelumnya, tidak satupun ada penghuninya sehingga dibakar oleh aparat. Total ada 19 pondok yang dibakar. Sekitar pukul 13.00 WIB tim gabungan pun berisitirahat.

Polisi Terlibat Perambahan

Saat sedang istirahat, tiba-tiba datang dua orang perambah hutan ditemani seorang oknum polisi yang diketahui anggota Polres Rejang Lebong berinisial “S”. Dengan menggunakan motor Supra Fit warna hijau dan berjaket, polisi tadi menyatakan tidak terima dengan cara tim gabungan langsung main bakar. Hal senada dilontarkan dua orang perambah yang tidak diketahui identitasnya.

Melihat protes polisi tersebut, tim gabungan yang dalam kondisi kelelahan sempat terpancing. Namun beruntung suasana berhasil diredam. Petugas gabungan diwakili humas BKSDA Provinsi Bengkulu menjelaskan, sebelum dibakar pihaknya telah lebih dulu memeriksa, dan diketahui pondok tidak berpenghuni.

Saat ditanya, warga tadi mengaku membeli lahan yang berada di dalam kawasan hutan konversi dari “S” yang diketahui berpangkat Bripka. Untuk mendinginkan suasana yang mulai memanas, akhirnya petugas melepaskan 4 orang perambah yang telah diamankan sebelumnya bersama sepeda motor dan peralatan kebun lainnya dengan catatan perambah diminta untuk tidak kembali lagi ke ladangnya yang masuk dalam hutan konservasi.

Usai kejadian itu, Kepala BKSDA Provinsi Bengkulu Drs. Andi Basrul menjelaskan bahwa sudah ada ribuan perambah hutan yang menggerogoti kawasan hutan Bukit Kaba. Jika tidak ditindak maka hutan tersebut akan habis dan bisa menimbulkan bencana alam.

“Perambah tidak kita tahan, hanya diberi peringatan keras. Kalau masih nekat kita proses hukum. Operasi tersebut tidak akan berhenti sampai disini akan berlanjut,” ujarnya.

Andi Basrul juga menjelaskan, berdasarkan pengakuan sebagian perambah hutan yang dimintai keterangannya, mereka membeli lahan tersebut dari oknum polisi berinisial “S”. Atas kejadian tersebut Andi akan melaporkan oknum yang bersnagkutan ke Polda Bengkulu, “Saya sudah bertemu Kapolda, dan beliau bilang bila ada anggotanya yang terlibat perambahan hutan laporkan saja,” terang Andi.

Untuk melakukan reboisasi hutan yang telah dirambah seluas 10.000 Ha tersebut, Andi Basrul mengatakan akan dilakukan pada tahun 2010 mengingat dana yang diperlukan cukup besar yakni Rp 4 juta per Ha nya. Dijelaskan juga operasi tersebut telah sesuai prosesudr yakni perambah telah diperingatkan dua kali dan petugas gabungan juga sudah berkoordinasi dengan pihak terkait.

Setelah operasi, petugas langsung memutuskan untuk kembali ke kantor, namun baru sekitar 20 meter iring-iringan mobil petugas berjalan, perambah bernama Lili yang datang bersama Kepala Desa Kepahiang Indah, Thamrin dan sejumlah PNS Kepahiang serta dua orang anggota Polres Kepahiang menghadang laju petugas.

Ketegangan kembali muncul. Uniknya dua anggota Polres Kepahiang tersebut mempertanyakan kenapa pihak BKSDA tidak melakukan koordinasi dengan Polres setempat. Kontan saja pertanyaan tersebut dijawab oleh salah seorang anggota Polda Bengkulu didampingi Kepala BKSDA dan mengatakan bahwa operasi mereka sudah dikoordinasikan dengan Polres RL dan Polres Kepahiang. “Dengan siapa? Nggak ada tuh informasinya?” tanya anggota Polres Kepahiang tersebut.

Namun saat melihat ada rekannya dalam rombongan tersebut, akhirnya anggota Polres Kepahiang Bripka S. Bahri bisa memahami. Tapi Kades Thamrin dan Lilil tidak demikian. Lili menangis sesenggukan sembari mengumpat petugas yang tega membakar pondoknya. “Aku ini orang miskin pak, ngapo main bakar-bakar,” ujarnya.

Kades Kepahiang Indah Thamrin mengatakan bahwa petugas sebaiknya tidak memakai cara yang kejam dalam mengusir warganya. Namun saat ditanya kenapa Thamrin hanya diam ketika warganya banyak yang merambah hutan, sontak Kades tersebut langsung terdiam, “Ya kalau udah dibakar ya udahlah mau apalagi,” kelitnya.

Salah seorang petugas BKSDA yang mengenali wajah Thamrin langsung menunjuknya, “Bapak ni yang kabur di bukit tadi kan?”. Dengan tergagap Thamrin menolak kalau dia melarikan diri, “Pekerjaan warga ni kan udah 15 tahu berjalan, jadi mereka ni dak nyangko bakal ado operasi ini, dan saya udah sering meminta warga keluar dari hutan milik negara ini,” bela Thamrin. (cw5)

Categories: Akar News
  1. Belum ada komentar.
  1. Belum ada trackback.
Anda harus masuk log untuk mengirim sebuah komentar.