Caleg dan Sembako
By, Erwin S Basrin
Malam jam 19.30 tanggal 4 April 2009, ketika kami pulang dari tempat saudara dengan di depan rumah kami yang belum jadi parkir mobil mewah dan telah menunggu seorang wanita di teras rumah dengan ramah dia menyapa ‘erwin ya…’ dan selanjutnya dia cerita panjang bahwa dia ada hubungan keluarga dengan saya dengan menyebutkan nama beberapa leluhurku dengan yakinnya. Selanjutnya oleh istri tercintaku dia dipersilakan masuk, seakan sudah lama sekali kenal dengan kami, begitu duduk di ruangan rumah sederhana kami dia bercerita panjang bahwa dia punya hubungan keluarga dengan kami terutama dengan aku meskipun kami bingung selama ini dia belum pernah ketemu kami.
‘bibik’ demikian saya harus memangil dia, sebutan biasanya untuk menyebutkan saudara ibu atau bapak, ‘ada apa ya, kok tuben datang kemari, bibik Caleg ya..??’ celetuk istri tercintaku, tiba-tiba seorang wanita cantik berjilbab muncul dan langsung bersalaman dengan kami, dalam hatiku pasti ini Calegnya. Seperti biasa dia perkenalkan diri sekaligus menyakinkan kami bahwa dia juga ada hubungan keluarga yang erat dengan kami, ‘erwin yaa..?? kenal sayakan.??’ Tanya dia dengan yakinnya, jelas saja saya tidak kenal ‘aduh maaf buk saya lupa..? dan langsung dijawab bahwa dia anak orang kaya di kampungku dan adik salah satu pejabat di Kabupaten asalku Lebong, orang-orang yang disebutkan dia memang aku kenal namun tak ada hubungan keluarga seperti yang di ceritakan.
‘aku datang kemari dibawa bibik untuk meminta bantuan kamu sekeluarga untuk mendukung aku di Pemilu nanti untuk duduk di DPRD Kota’ sebut dia dengan mantapnya sambil memberikan saya kartu namanya, selanjutnya dia menyatakan bahwa jika kami bersedia dia berencana akan memberikan bingkisan sebagai tanda terima kasih awal dan setelah dia berhasil pastinya dia juga akan memberikan kami sesuatu (tidak jelas juga kami dengan sesuatu yang dimaksudnya). Dengan yakinnya juga dia memperingati kami jangan sampai kami menjual suara kami sehingga hal tersebut akan berdampak selama 5 tahun kedepan lanjutnya, dalam hati saja kata-kata ini hampir tiap menit saya dengar.
Jika kita lihat lebih jauh semua karakter politik yang saat ini berkembangn semuannya sama, yaitu kompromis. Kompromi dengan segala kebusukan partai, kompromis dengan Caleg yang busuk, bahkan kompromis nantinya akan kompromis dengan Executive dan yang pastinya tidak ada hubungannya dengan rakyat, dan apa saja yang diucapkan si Caleg atas nama pribadi dia mapun secara institusi partai semuanya tidak masuk akal.
‘sampai saat ini kami belum punya pilihan yang cocok’ jelas istriku, bagai gayung bersambut dia langsung menyatkan bahwa dia akan memberikan sesuatu sebagai oleh-oleh, bibik tadi langsung berdiri dan menuju mobil, tak lama kemudian dia masuk sambil membawa bingkisan, bingkisan ini berisi 3 bungkis mie instan, ½ kg Gula Psir ¼ kg minyak goring, 1 bungkus teh dan sehelai Celana untuk tidur. Dalam hati saya geli dan marah namun tiba-tiba paha saya dicubit istriku sepertinya dia juga mulai kesal, sepertinya dia mau beli suara kami sekeluarga, mungkin dia melihat keadaan kediaman kami yang tinggal di rumah yang sangat sederhana, geli hati saya bahwa dia tidak tahu betapa kami sekeluarga selama 5 tahun kami menderita dan tak soerangpun yang mampu membeli kami dan betapa dia tidak tahu bahwa selama 7 tahun juga melakukan advokasi dan terus-menerus memperbaiki sistem kerja politik di Negara ini, dan tentunya menggunakan pisau bedah kritik dan oto-kritik untuk memotong dan membuang banyak peninggalan yang buruk dan kompromis melalui kerja-kerja pendidikan kritis kepada rakyat untuk tidak mendukung orang-orang seperti Caleg ini, karena dia akan menjadi biang kerusakan bagi pondasi bernegara. Sah-sah saja jika gunakan strategi dan taktik untuk mendapatkan dukungan rakyat tapi tidak bisa keluar dari prinsip keterpihakan pada rakyat dan tidak harus pragmatis, tidak bisa tujuan menghalkan segala cara, mengangakat issue primordialisme yang sempit, bagi-bagi sembako, semua strategi harus bisa dipertanggungjawabkan.
Namun inilah realitas eforia politik, sesuatu yang nyata dan konkret di hadapan kita, semuanya sedang berspekulasi, menciptakan dunia imaginative. Sebuah dunia nyata, yang bernama kehidupan politik, adalah sebuah dunia yang tak bisa dihindari, tidak bisa dibokongi, mengutip Gramsci, dia adalah situasi real, sebuah arena kontestasi. Seperti diketahui juga, Pemilu adalah produk sistem demokrasi liberal. Jadi, dimanapun ada negara yang menganut demokrasi liberal maka berarti mereka akan mengenal pemilu sebagai cara transaksi dan peralihan kekuasaan dalam kerangka kapitalistik, namun jika melihat kondisi dan system politik yang dijalankan oleh salah satu Caleg seperti di atas maka keyakinan saya bahwa Pemilu 2009 sebagai pemilu busuk banyak benarnya juga, dimana kondisi idealism tidak punya tempat lagi dalam system politik, meskipun saya sadar bahwa keyakinan ini merupakan cara pandang yang terjebak pada kategori moralitas, bukan seni berpolitik. Karena seni berpolitik, mengutip Harnecker, adalah seni merubah apa yang tidak mungkin menjadi mungkin bisa saja dengan cara sebungkus Sembako, bagi-bagi uang untuk mobilisai massa, maupun menyebarkan pesona dengan social responsibility atau program kerjanya bersih-bersih Got, bersih-bersih masjid…Ya ampunnn…karang taruna, yang gak tahu politik juga bisa begitu, tapi itu kan bermanfaat buat rakyat, hhhmm…benar juga…, karena jelas pemilu 2009 memang kerangka politik masyarakat borjuis, tetapi masalahnya adalah bagaimana memasuki arena ini dan memetik keuntungan dari praktek reformis seperti ini, celetukku dalam hati, ingin rasanyaku muntahkan semuanya dihadapan Caleg Cantik berjilbab ini.
Seperti dua sisi mata uang, ada Caleg di satu sisi dan Rakyat disisi lain semuanya mulai mencoba untuk ‘memetik keuntungan’ dari kondisi politik yang berlangsung, seperti salah seorang yang kami temukan di salah satu Kabupaten di Bengkulu yang menjadi ‘agen’ untuk mobilisasi masa, untuk satu orang partai tertentu harus bayar Rp. 50.000, itu diluar transfortasi dan makan jelas dia dengan kami, biasanya saya bawa 100-300 orang, bayangkan jika mereka bekerja di Sektor Perkebunan dengan gaji Rp. 30.000/perhari mereka mendapatkan keuntung Rp. 10.000 karena Rp. 10.000 sebagai biaya jasa untuk saya sebut dia sambil menghisab Rokok Kesayangannya kepada kami. Ini karena memang rakyat tidak lagi tertarik dengan beberapa program yang ditawarkan oleh partai tertentu karena pastinya tidak akan ditetapi semuanya menjadi opportunistic. Sebenarnya perubahan konstalasi politik dengan pemilihan langsung oleh rakyat diharapkan dapat menghasilkan perubahan yang signifikan paling tidak di struktur pemerintahan itu sendiri, pemerintahan yang mempunyai Kompetensi, Integritas dan Legitimasi, namun saat ini dia hanya menjadi bahan tulisan saja.
Begitu si Caleg ini Pamit Pulang, sambil membuka bungkusan tersebut istriku yang cerewet bilang sebagai pegiat saya mestinya mulai menyusun agenda gerakan politik dia bilang ‘yaitu pemerintahan yang di bangun sendiri oleh kekuatan gerakan rakyat (yang tidak bagi-bagi kaos itu, yang tidak bagi-bagi sembako, melainkan yang membuat pendidikan-pendidikan di pabrik-pabrik, sawah-sawah, membuat diskusi-diskusi di kampung-kampung, melakukan pemogokan-pemogokan, melakukan aksi-aksi, membagikan selebaran subersiv, membuat pertemuan-pertemuan di kost-kosanan kumum). Dengan menggorganisir rakyat miskin, berarti sedang mempersiapakan pemerintahan rakyat, semakain tinggi kesadaran rakyat, Semakin bersatu rakyat, maka semakain luas struktur perlawanannnya, maka semakin dekat rakyat berkuasa bukan seperti sekarang rakyat dijadikan object mereka’ celetuk dia seperti penyanyi Rap saja mungkin kesal karena harga dirinya diinjak-injak dengan ¼ kg minyak manis dan 3 bungkus Mie Instan. Pastinya kami tak akan memilih dia di Pemilu nanti karena kami sepakat di keluarga kami akan menjadi Golput saja……
Sumber: http://www.erwinbasrin.co.cc/?p=106
