NGO: Sekutu atau Lawan?

By: Ji Giles Ungpakorn

Artikel ini berupaya untuk menganalisa politik NGO di Asia dengan menggunakan pengalaman kami sebagai kaum sosialis di Thailand sebagai contoh. Hampir 20 tahun berlalu setelah pertumbuhan masif NGO di negara-negara berkembang. NGO yang berkembang sebelum tahun 1980-an kebanyakan adalah lembaga kedermawanan seperti YMCA, Palang Merah, Japanese Societies of Gratitude, Budi Oetomo di Indonesia[1] atau berbagai yayasan gotong-royong Tionghoa yang didirikan di Thailand. Loncatan pertumbuhan NGO yang sebenarnya terjadi setelah tahun 1970-an. Continue Reading

Imperialisme dan NGO di Amerika Latin

By, James Petras

Pada awal tahun 1980-an, sebagian dari kelas berkuasa neoliberal yang lebih pandai, menyadari bahwa kebijakan mereka mengakibatkan polarisasi masyarakat dan memicu ketidakpuasan sosial berskala-besar. Para politisi neoliberal mulai membiayai dan memajukan strategi “dari bawah” yang berjalan seiring dengan kebijakan neoliberal mereka, yaitu strategi memajukan organisasi “akar rumput” dengan ideologi “anti-negara” untuk mengintervensi kelas-kelas yang secara potensial bertentangan demi menciptakan sebuah “bantalan sosial.” Organisasi-organisasi ini secara keuangan bergantung pada sumber-sumber neoliberal dan terlibat langsung dalam persaingan dengan gerakan sosial-politik untuk memenangkan kesadaran para pimpinan lokal dan aktivis komunitas. Pada tahun 1990-an, organisasi-organisasi ini, yang disebut “non-pemerintah,” berjumlah ribuan dan menerima hampir empat miliar dolar di seluruh dunia. Continue Reading

Melirik Kearifan Lokal Suku Rejang Jurukalang dalam Tata Kelola Hutan

Sebagai bagian dari komunitas adat, yang didalamnya terintegrasi dengan ekosistem hutan, masyarakat adat Jurukalang mempunyai kearifan local sebagai upaya pelestarian kawasan yang dikelola berdasarkan prinsip demokratisasi dan keberlanjutan, beberapa kearifan local yang masih terdokumentasi dengan baik sampai saat ini adalah; Continue Reading